6 Aturan Kocak Sepak Bola Ala Bocah Kampung. FIFA juga Pusing Kalau Nonton Pertandingannya!

aturan-sepak-bola-kampung aturan-sepak-bola-kampung

Sepak bola masih menjadi menyimpang satu olahraga nomor satu di Indonesia. Nggak cuma gemar menonton, orang Indonesia juga gemar memainkannya. Di sore hari mereka berkumpul di lapangan dan main berklop tenggat azan Magrib menghentikan.

Saat kita mini, main bola di lapangan menjadi rutinitas. Hampir setiap hari kita melakukannya bersepadan teman-teman. Banyak kejadian kocak yang bisa diingat di momen itu. Salah satunya tentang aturan main yang manasenang. Aturan main bola yang akurat diadaptasi sedemikian rupa berdasarkan kenyamanan bersepadan. Di antara sekian aturan nyeleneh, berikut beberapa di antaranya.

1. Di aturan FIFA, ketika bola kena tangan akan terjadi handball. Di permainan bola kampung, handball baru terjadi ketika disengaja

Di permainan bola kampung jarang sekali terjadi handball. Ketika ada yang melihat bola kena tangan dan meminta handball, bocah-bocah lawan menolak terjadi pelanggaran. Mereka berdalih nggak sengaja. Pertandingan mesti jalan lagi. Handball diberikan pelanggaran jika terjadi karena disengaja. Misalnya ketika bola mau masuk gawang, lalu ada pemain yang ungkapn kiper menangkapnya. Nah, itu baru dianggap pelanggaran.

2. Pertandingan bola ala bocah kampung nggak butuh jumlah pemain yang setara. Beda selisih pemain pun pertandingan tetap akan dilangsungkan

Pertandingan bola ala bocah kampung cukup fleksibel soal jumlah pemain. Berapa pun pemain yang ada, pertandingan tetap akan dimulai. Nggak layak sebelas, jumlah pemain kedua tim juga nggak layak pas. Beda satu atau dua orang pun pertandingan tetap akan berlangsung. Surplus pemain itu biasanya anak bawang alias dia yang nggak bisa main bola, makanya nggak masuk hitungan. Dia boleh main cuma biar rame aja.

3. Permaianan bola anak kampung nggak butuh lapangan yang terstandar. Nggak ada gawang pun bisa pakai sandal

Bocah kampung nggak sudah ribet kalau mau main bola. Selama ada tanah kosong dan bola, mereka bisa main di mana saja. Lapangan nggak perlu garis, nggak perlu wasit, nggak gawang pun cukup pakai sandal. Ketika jumlah orangnya kurang, bocah mengakalinya dengan mengecilkan gawang dan meniadakan kiper. Cara ini cukup membantu meskipun pada pelaksanaannya kerap terjadi kecurangan. Gawang sering kali digeser-geser biar lawan susah ngegolin.

4. Salah satu aturan paling kocak itu ketika gol bisa dianulir kalau kiper nggak mampu menjangkau bola karena keadiluhungan

Yang lucu dari peraturan gol pertandingan bola ala bocah kampung ialah keputusan gol. Bola masuk gawang sangat bisa dianulir kalau tangan kiper nggak bisa menjangkaunya. Tim yang kalah akan melakukan protes untuk menganulir gol itu dengan dalih “keketatan”. Gol tersebut dikatakan curang lantaran mengeksploitasi ketat badan kiper. Kocak bet dah!

5. Ketika FIFA ruwet ngurusi peraturan offside, bocah kampung malah meniadakannya

Aturan offside sering jadi polemik di pertandingan bola profesional. Keberadaan VAR terbukti nggak terkabul mewujudkan keadilan. Emang paling bener kalau bola nggak ada offside kayak yang dilakukan bocah-bocah kampung. Karena nggak ada offside orang jadi nggak perlu berdebat lagi soal sah atau enggaknya gol. Selama nggak kena tangan semuanya sah.

6. Skor akhir nggak luar biasa penting saat main bola kampung. Kemenangan ditentukan oleh siapa yang mencetak gol terakhir

Kemenangan sepak bola didasarkan pada siapa yang mencetak skor paling luhur. Aturan ini nggak berlaku di kampung-kampung. Timmu nggak bisa dikatakan menang kendati beres mencetak berjibun gol sekalipun. Timmu baru bisa dikatakan menang ketika bisa mencetak gol terakhir sesaat azan magrib berkumandang. ????

Itulah kaum aturan kocak yang berlaku di sepak bola kampung. Aturan yang dibikin senbatang tubuh oleh bocah-bocah yang main. Makanya ketika ada kunjungan FIFA ke Indonesia lebih tidak marah hindari berlabuh ke kampung, supaya mereka nggak migren. Susah-susah bikin peraturan, eh, dilanggar seenaknya sama bocah-bocah.