breaking news New

SEJARAH ALAT MUSIK TRADISIONAL INDONESIA; ANGKLUNG

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa Barat yang sudah mulai mendunia. Alat musik ini terbuat dari bambu yang cara dimainkannya dengan digoyangkan sehingga mengeluarkan bunyi yang merdu. Bunyi itu dihasilkan dari benturan badan pipa bambu sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada.

Sejarah
Angklung memiliki sejarah yang panjang dan sudah ada sejak dulu hingga berkembang sampai sekarang. Tidak ada petunjuk akan sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Menurut sejarahnya, angklung dulu hanya digunakan untuk upacara yang berhubungan dengan padi. Dengan kata lain, angklung bukanlah kesenian murni, melainkan kesenian yang berfungsi dalam kegiatan kepercayaan. Angklung sudah ada sejak zaman Hindu dan biasa digunakan untuk upacara ritual keagamaan, seperti pengganti genta atau bel oleh pendeta Hindu. Kemudian pada masa Kerajaan Pajajaran, angklung juga pernah dijadikan sebagai alat musik korp tentara kerajaan ketika terjadi perang Bubat. Alat musik ini dibunyikan oleh tentara kerajaan untuk membangkitkan semangat juang atau tempur.

Di antara fungsi angklung yang dikenal oleh masyarakat Sunda sejak masa kerajaan Sunda adalah sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung. Pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak-anak pada waktu itu.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatra. Pada 1908, tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai dengan penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana. Bahkan sejak 1966, Udjo Ngalagena, tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda, mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang jika mengering berwarna kuning keputihan. Tiap nada dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah tiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.